Bertemu lagi di
blog beritakampungbekam.blogspot.com. Semoga anda dan kita dalam keadaan sehat wal afiat.
Beberapa waktu lalu saya telah berbagi tentang bendungan Kalimantong, kali
ini saya akan berbagi sedikit informasi tentang geliat masyarakat Rorapedi di
musim penghujan.
Pak Malar nampak wara
wiri melihat kondisi parit. Beliau dibantu seorang teman ingin memastikan bila
air bisa dipasokkan ke dalam persawahan. Karena kepadanyalah masyarakat desa
Rorapedi bergantung. Jika kondisi air tidak sering dipantau maka akan berdampak
pada pertumbuhan padi. Dengan demikian kualitas padipun akan terjaga baik. Tak
hanya siang, malampun, pak Malar tetap mengecek kondisi air.
Maklum saja, bagi
masyarakat desa Rorapedi dan sekitarnya, musim hujan adalah berkah yang tak
terhingga. Karena pada musim inilah kehidupan akan terus berlangsung. Kesibukan
dan aktifitas masyarakat kembali bergeliat. Sehingga tak ada lagi lahan
persawahan yang tidak produktif. Semua menjadi hijau dan kemudian menguning.
Lalu rupiah pun masuk ke saku masing-masing. Alhamdulillah.
“Alhamdulillah” seru pak
Zaenal memanjatkan rasa syukur kepada Allah SWT atas hujan yang kembali turun
di tanah persawahannya.
Pak Zaenal hanyalah
salah satu warga dari sekian ratus kepala keluarga yang bersyukur atas nikmat
ini. Bagimana tidak, hujan adalah anugerah. Masyarakat Rorapedi kembali menanam
padi walau pun hanya satu kali panen dalam setahun. Pasalnya, masyarakat
Rorapedi tidak memiliki cadangan air. Hanya hujan yang menjadi harapan. Hal ini
berbanding terbalik dengan kecamatan Brang Rea dan Kecamatan Brang Ene. Dikedua
kecamatan ini bisa panen tiga kali dalam setahun. Dikarenakan memiliki sumber
air yang melimpah.
Biasanya, setelah
masa panen, masyarakat Rorapedi menanam tanaman palawija. Seperti jagung,
kacang tanah, kacang panjang, kacang pendek dan sebagainya. Bial panen tiba,
tanah persawahan kembali tidak produktif. Karena ketersediaan air.

Komentar
Posting Komentar